Posted by: dgusyana | July 22, 2008

Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik

img_0108Koran Jakarta, Senin, 30 Juni 2008

Rasanya yang manis-manis asam dan segar membuat buah stroberi, raspberry, blackberry, red blackberry, dan black courant banyak disukai. Buah-buahan dari famili yang berbeda tapi termasuk kategori beri ini cocok hidup di daerah dingin. Ketika malam hari, suhu ideal bagi tanaman beri berkisar 13-14 derajat Celcius, sedangkan ketika siang hari sekitar 23-24 derajat Celcius.


Suhu yang cukup dingin di malam hari dibutuhkan untuk memicu proses inisiasi bunga, sedangkan di siang hari tanaman beri, khususnya stroberi, membutuhkan cukup cahaya matahari untuk proses fotosintensis dan pematangan buah. Untuk mendapatkan buah stroberi yang berkualitas, mulai dari proses penanaman hingga perawatan buah harus diperhatikan dengan benar.

Biasanya, penanaman stroberi dilakukan secara tradisional dengan mengandalkan media tanah atau disebut juga dengan teknik mulsa. Teknik ini lazim dipakai karena mudah dan murah. Petani hanya tinggal membuat gundukan tanah yang ditutup dengan plastik yang telah dilubangi. Sebelum ditutup plastik, tanah diberi pupuk dengan kadar tertentu. Setelah itu, plastik dihamparkan hingga menutupi tanah sebagai media tanam.

Meski tergolong mudah, cara ini memunyai kekurangan. Pasalnya, tanah yang ditanami secara terus-menerus akan mengalami kejenuhan dan mengandung mikroorganisme yang bisa menjadi hama bagi tanaman. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, dikembangkan sistem hidroponik. ?Di Indonesia penanaman stroberi dengan sistem hidroponik mulai marak sejak tahun 2000,? papar Dadang Gusyana, Production Supervisor PT Strawberindo Lestari, produsen stroberi.
Untuk tanaman lainnya, teknik hidroponik telah dikembangkan jauh sebelumnya. Merujuk asalnya, istilah hidroponik atau hydroponics berawal dari bahasa Latin, hydro

berarti air dan ponos berarti kerja. Secara umum, sistem hidroponik berarti sistem budi daya pertanian tanpa menggunakan media tanah, tetapi menggunakan air yang berisi larutan nutrien.

Jika dibandingkan dengan sistem penanaman secara tradisional, sistem ini memiliki beberapa keunggulan, yaitu kepadatan tanaman per satuan luas dapat dilipatgandakan sehingga menghemat penggunaan lahan, terjaminnya mutu produk, baik bentuk, ukuran, rasa, warna, maupun kebersihannya karena kebutuhan nutrisi tanaman dipasok secara terkendali di dalam rumah kaca. Selain itu, sistem hidroponik tidak mengenal musim atau waktu tanam sehingga panen dapat diatur sesuai dengan kebutuhan pasar.

Dalam pengembangan hidroponik, ada dua jenis media yang dipakai, yakni media nontanah dan media air. Yang dimaksud media nontanah adalah pasir, arang sekam padi, zeolit, rockwoll, gambut, dan sabut kelapa. Sedangkan media air biasanya mengandung nutrien atau pupuk yang bersirkulasi sebagai media.

Di media air tersebut, akar tanaman terendam sebagian dengan kedalaman sekitar tiga milimeter. Cara ini sering disebut dengan Nutrient Film Technical (NFT). ?Media yang kedua ini cocok untuk tanaman beri karena jika terjadi kesalahan dalam memberi nutrisi tanaman tidak akan langsung kolaps,? ujar Dadang yang juga mengembangkan tanaman beri hidroponik di Daerah Cipanas, Jawa Barat.

Sebenarnya, secara teknis penanaman sistem hidroponik pada stroberi tidak berbeda jauh dengan sistem hidroponik pada tanaman lain. Yang membuatnya istimewa, sistem hidroponik stroberi biasanya menggunakan media berupa kayu lapuk. Media tersebut berfungsi sebagai buffer atau penyeimbang jika terjadi perubahan suhu air dan terdapat kelebihan atau kekurangan nutrisi pada saat pemupukan.

Media tanam lain yang juga sering digunakan antara lain arang sekam dan serabut kelapa. Adapun proses pembuatannya diawali dengan cara menyangrai kedua bahan itu di wajan atau di atas lapisan seng. Proses ini harus dilakukan hati-hati, jangan sampai bahan terbakar menjadi abu. Arang serabut kelapa atau arang sekam yang telah dingin lantas dimasukkan ke polybag kecil sebagai media penyemaian benih dan polybag besar untuk proses pembesaran.

Proses selanjutnya bibit beri yang telah siap tanam dimasukkan ke polybag dan diberi nutrien sesuai dengan takaran yang tepat. Pemberian nutrien ini, tutur Dadang, harus disesuaikan dengan masa pembibitan, pertumbuhan, dan pembuahan. Nutrien yang telah dilarutkan dalam air kemudian didistribusikan ke media melalui jaringan irigasi mikro. Jaringan tersebut dapat meneteskan nutrien ke media yang langsung diserap oleh tanaman.

Adapun besarnya electrical conductivity (EC) atau konduksi listrik yang digunakan untuk menjalankan jaringan irigasi mikro berkisar 1,1 hingga 1,5 mS/cm. Dengan cara tersebut, reaksi tanaman terhadap perubahan formula pupuk dapat segera terlihat. Oleh karena itu, pasokan listrik harus selalu tersedia selama 24 jam.

Dilihat dari sisi perawatan, sistem hidroponik memberikan kemudahan. Pasalnya, petani tidak perlu repot mengganti media setiap kali akan menanam stroberi. Seusai buah dipanen, talang atau pot sebagai wadah tanaman dapat dibersihkan dengan dicuci atau disikat. Setelah bersih, wadah tersebut dapat diisi dengan bibit yang baru. Demikian seterusnya.

Sistem hidroponik juga memberikan keuntungan lainnya, yakni menghasilkan buah yang kualitasnya lebih baik. Pasalnya, dengan cara hidroponik, baik ukuran maupun rasa buah bisa direkayasa sesuai harapan, bergantung pada pemberian nutrisi. ?Jika ukuran buah kurang besar, bisa ditambah kandungan nitrogen dan jika kurang manis dapat ditambah kalsium,? timpal Dadang.

Green House

Kecuali blueberry yang jenisnya berkambium dan pohonnya besar, syarat untuk membuat beri hidroponik harus ada green house yang tertata dengan baik. Green house berfungsi sebagai wahana pelindung tanaman. Di dalam green house tanaman diatur suhu, kelembaban, tekanan udara, serta derajat keasamannya (pH) yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman beri. Derajat keasaman yang cocok untuk tanaman beri berkisar lima hingga enam, kecuali blueberry cocok dengan pH empat hingga lima.

Perlakuan itu semua bertujuan agar pertumbuhan tanaman terkontrol, jauh dari berbagai macam penyakit, serta bebas dari pengaruh cuaca luar yang tidak bersahabat. Selain itu, agar kontinuitas produksi tanaman berjalan dengan baik. Dalam penanaman stroberi, pengaturan suhu memegang peranan penting. Oleh karena itu, biasanya green house dilengkapi dengan kitiran atau kipas yang berfungsi untuk sirkulasi udara, terutama jika siang hari suhu di dalam green house terlalu panas.

Jika semua persyaratan itu telah terpenuhi, masa pembuahan yang diawali dengan perkembangan bunga akan lebih cepat. Biasanya pada masa ini disebarkan ribuan ekor lebah jenis Melivera ke dalam green house. Penyebaran lebah bertujuan agar proses pembuahan benang sari ke putik berlangsung sempurna. Tanpa bantuan lebah, pengalihan benang sari ke putik tidak akan terjadi karena terbatasnya angin di dalam green house. Dari biaya produksi, pembuatan green house terbilang lebih efisien. Pasalnya, penggunaan air, pupuk, dan pestisida bisa dikurangi.

Menurut Dadang, tanaman beri yang dibudidayakan di dalam green house membutuhkan cahaya dengan panjang gelombang sekitar 400 ? 700 nanometer (Photosynthetically Active Radiation). Untuk itu, dibutuhkan penutup yang sesuai dengan kisaran panjang gelombang tersebut. Agar bisa mendukung syarat ini, diperlukan bahan fiberglass dan polyethylene. Jika menggunakan bahan acrylic dan polycarbonate justru cenderung akan meneruskan cahaya, bukan meyebarkannya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: