Posted by: dgusyana | January 6, 2009

Menyingkap Rahasia Kentut

kentut

Seorang bapak terbaring lemas di salah satu kamar perawatan rumah sakit setelah menjalani operasi dengan bius total. Bapak tersebut berkeluh kesah dan berkata haus dan lapar, tetapi keluarganya tidak berani memberikan air setetespun dan hanya bisa berkata:  Pak jangan dulu minum kan belum kentut”.  Kehadiran sang kentut amat dinanti nanti karena setelah kentut si bapak baru biasa minum dan makan. Mengapa?

Kentut adalah perpindahan gas dari dalam tubuh, terutama dari usus keluar melalui anus atau dubur. Gas ini terutama berisi nitrogen, oksigen, metan (diproduksi bakteri atau kuman dan mudah terbakar), karbondioksida, hidrogen dan lain-lain. Kentut menandakan peristaltic (pergerakan) usus yang berfungsi dengan baik, sehingga orang pasca operasi dengan bius total baru dapat diberi minum dan makan setelah kentut.

Kentut dalam istilah ilmiahnya disebut flatulence, flatulency atau flatus, bukanlah peristiwa biasa. Anda dapat membuktikannya dengan mencari kata seputar flatulence, flatulency atau flatus di mesin pencari di internet, tidak kurang dari 347.000 rujukan tentang kentut hingga 2008 ini. Kajian tersebut diterbitkan oleh beragam jurnal ilmiah dari berbagai disiplin, dari ilmu gizi, kedokteran, hingga kesehatan dan pengobatan.

Pada kondisi tubuh yang normal, kentut merupakan tanda normalnya aktifitas sistem pencernaan. Sementara itu, kentut yang berlebihan atau tidak kentut sama sekali merupakan tanda adanya iritasi pada perut atau saluran cerna.  Kentut tidak beracun, gas ini secara alami merupakan komponen  dari usus yang normal. Meskipun demikian ketidaknyamanan dapat terbentuk saat tekanan gas semakin tinggi.

Dalam buku The Flatuosities, yang ditulis Hippocrates disebutkan bahwa beraneka ragam penyakit dapat timbul akibat tidak kentut karena berlebihannya gas yang terkumpul dalam perut. Secara teoritis, seseorang yang dapat menderita gaguan susah buang air besar bila menahan kentut. Tidak semua gas kentut  keluar dari dalam tubuh melalui anus. Ketika tekanan parsial berbagai kompenen gas usus lebih tinggi dari tekanan parsial dalam darah, komponen-komponen tersebut msuk kedalam sistem peredaran darah melalui permukaan usus melalui proses difusi.

Pada saat darah mencapai paru-paru, dengan proses difusi gas-gas tersebut dapat keluar dari darah dan keluar pada saat mengeluarkan nafas.  Jika seseorang menahan kentut pada saat siang hari, gas kentut tersebut akan keluar selama kita tidur ketika tubuh dalam kondisi relaksasi. Adakalanya gas kentut terjebak pada saat pembentukan feces  dan keluar bersamaan dengan proses buang air besar.

Gangguan

Kebiasaan menelan udara, yang tanpa disadari, dilakukan oleh hampir setiap orang, pada saat-saat tertentu, seperti dalam keadaan tegang atau stress, udara yang tertelan dapat semakin banyak. Udara tersebut masuk ke lambung dan dapat dikeluarkan lagi atau terus masuk ke dalam usus. Kebiasaan menelan udara juga berhubungan dengan kelainan-kelainan fungsi saluran cerna.

Sejumlah udara juga ikut tertelan bersama-sama dengan makanan, minuman, atau ludah yang ditelan. Jumlah yang tertelan meningkat pada orang yang cepat makannya, pada kaum perokok, dan mereka yang emosinya tak stabil. Biasanya setelah makan, udara yang tertelan ini keluar dengan sendirinya dengan bertahak, akan tetapi pada orang-orang tertentu udara tersebut tidak dapat keluar dengan sendirinya. Udara yang terkumpul di lambung dan menyebabkan sindroma magenblase.

Udara yang diproduksi pada fermentasi oleh bakteri-bakteri dalam kolon, komposisi dan  volumenya bergantung pada sisa makanan dan jenis bakteri, terutama yang bersifat anerobik. Jenis sisa makanan, dengan sendirinya dipengaruhi oleh komposisi makanan  sehari-hari, golongan legume atau kacang-kacangan merupakan salah satu makanan yang menyebabkan pembentukan gas dalam perut.

 

Pada sistem pencernaan manusia, kesulitan pembuangan gas sebagai kentut antara lain memang disebabkan oleh karena gas berada dalam gelembung-gelembung kecil yang menyerupai busa. Pembentukan gelembung ini ternyata dibantu oleh lendir dalam saluran pencernaan. Peranan lendir ini telah dibuktikan dalam berbagai percobaan diantaranya pertama obyek percobaan yang diminta meminum lendir ternyata mengalami gejala-gejala yang serupa dengan gangguan karena pengumpulan gas dalam perut, kedua telah dibuktikan ada korelasi antara kekentalan mukus dalam perut dan tingkat beratnya keluhan penderita, ketiga stress terbukti ikut meningkatkan pembentukan mukus atau sekresi mukus dalam saluran pencernaan.

 

Pengumpulan gas dapat menimbulkan keluhan-keluhan perut kembung, mules-mules, dan berbagai keluhan lain. Demikian kompleksnya gejala-gejala ini sehingga sering disalah-tafsirkan sebagai penyakit organik seperti batu empedu. Gas yang terkumpul di dalam lambung atau splenie flexure dapat mendorong hemi-diaphragma keatas dan menekan jantung. Ini dapat menimbulkan gejala-gejala nyeri pada perut kiri atas yang kadang-kadang menjalar ke leher.

 

Bila sejarah pada kasus dapat diketahui dengan jelas, misalkan perut kembung bila memakan kacang, kol atau lobak, terapi akan sangat sederhana, yaitu mengeliminasi makanan tersebut dari dietnya. Sayang bahwa pada sebagian besar penderita makanan yang dapat menimbulkan gejala-gejala tersebut sangat banyak macamnya, sehingga terapi dengan mengendalikan diet menjadi tidak praktis.

 

Keluhan-keluhan setelah orang-orang percobaannya memakan makanan tertentu yang menyebabkan pembentukan gas. Ternyata 82% orang percobaannya melaporkan berkurang keluhan-keluhan, dibandingkan dengan 35% yang memakan plasebo. Frekuensi kentut dapat menigkat seiring dengan ketinggian terbang dan penerbangan luar angkasa. Rendahnya tekanan atmosfir, saat proses melahirkan, dan konsisi stres juga menjadi faktor lain terbentuknya gas kentut. Pada saat pendakian gunung, High Altitude Flatus Expulsion pertama kali tercatat dua ratus tahun yang lalu.

 

Terapi

Pada tahun-tahun sekitar 40 sebelum masehi, masyarakat Romawi kuno mengalami masa-masa di mana kentut  di tempat-tempat umum dinyatakan terlarang dan dinyayatakan secara tertulis dalam undang-undang. Tetapi Kaisar Claudius kemudian merubah undang-undang tersebut, karena menurut para ahli sejarah mungkin disebabkan karena kaisar tersebut sering kentut sembarangan.

Mengeluarkan kentut dianggap sesuatu yang tidak sopan pada kebanyakan kebudayaan. Di dalam tatanan adat istiadat  masyarakat Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam suku ini masalah kentut tersebut juga menduduki tempat yang penting. Di daerah tertentu yang menyatakan bahwa bila seorang calon menantu membuang angin sehingga terdengar oleh calon mertua, maka sang mertua akan segera memutuskan hubungan dengan menantunya.

Produk Under-Tec Corp sempat menjadi buah bibir di media massa Amerika Serikat di awal tahun 2000-an yaitu Under-Ease. Penyaring kentut ini diproduksi pula dalam bentuk pembalut yang dapat direkatkan pada celana dalam, sehingga lebih praktis. Pakaian dalam yang sudah mendapatkan hak paten ini adalah hasil penelitian Buck and Arlene Weimer. Lainnya FLAT-D, produk berbentuk kain persegi panjang, yang mudah dilipat dan dibawa. Ketika seseorang buang angin dalam keadaan duduk di atas kursi kerja yang tertutup kain FLAT-D, kain ajaib ini menyerap aroma tidak sedap kentut tersebut.

Sebetulnya gas yang terbentuk dalam usus dapat direduksi dengan proses fermentasi. Oligokasarida difermentasikan dengan bantuan Lactobacillus casei dan Lactobacillus plantarum sehingga molekul tersebut dipecahkan menjadi molekul-molekul yang lebih kecil. Proses pemecahan ologosakarida dalam usus dapat dipadankan dengan pembautan tahu, bisa kita lihat bahwa dengan fermentasi, pembuatan tahu hanya sedikit menghasilkan gas.

Berbagai jenis probiotik seperti yogurt dan kefir terbukti mengurangi gas usus dan frekeunsi kentut karena probiotik tersebut berperan dalam menjaga keseimbangan flora dalam usus. Yogurt mengandung Lactobacillus acidophilus bermanfaat untuk megurangi gas dalam pencernaan. L. acidophilus dapat membuat usus lebih asam dan memelihara keseimbangan alam dalam proses fermentasi.

Suplemen enzim pencernaan berperan dalam mengurangi jumlah gas kentut dengan cara mengefektifkan proses pencernaan makanan sehingga sebagian besar senyawa dapat dipecah dengan sempurna. Enzim-enzim pencernaan seperti alpha-galactosidase , lactase, amylase, lipase, protease, sellulase, gluko amylase, invertase, pektinase, dan bromelain dapat dijumpai dengan bentuk masing-masing atau campuran dan tersedia bebas di pasaran.

Antibiotik rifaximin, yang biasa digunakan untuk pengobatan diare yang disebabkan E. coli, dapat  mengurangi produksi gas usus dan frekuensi kentut. Selain itu  terapi kentut dapat dilakukan dengan sedikit menambahkan zat asam kedalam proses pencernaan seperti meminum lemon jus dapat menstimulasi produksi gastric hydrochloric acid.  Suasana asam dapat meningktakan kinerja enzim pencernaan dan produksi asam sehingga proses pencernaan berjalan dengan normal dan diharapkan mengurangi gas kentut. Mengkonsumsi suplemen bromelain atau papain yang terbuat dari pisang dan pepaya dapat juga membantu mengurangi kentut.

Irna Safira Inayah, S.Si

Staff Pengajar Sekolah Tinggi Farmasi Indoensia (STFI), Bandung

 

Dadang Gusyana, S.Si

Information Officer, Indonesian Biotechnology Information Centre (IndoBIC), Pengembang situs http://www.moriskagroup.com & http://moriskaoptikal.blogspot.com/

 

Posted by: dgusyana | July 26, 2008

Spinosad: Pengendali Hama Hasil Fermentasi

img_0138

Mungkin kita hanya mengenal fermentasi sebatas pada pembuatan tempe, yoghurt dan tape, ternyata proses fermentasi juga dapat menghasilkan senyawa-senyawa lain yang sangat berguna sebagai obat-obatan dan insektisida.  Terungkapnya karateristik Saccharopolyspora spinosa memberikan fondasi yang kuat untuk program pengendalian hama tanaman. Jamur asal tanah ini secara alami mampu menghasilkan spinosad, yaitu senyawa kimia lakton makrosiklik (macrocyclic lactone) atau makrolida (macrolides) yang sangat kompleks dan sulit diproduksi secara komersial oleh industri dengan cara sintesis. Mudah didegradasi di lingkungan sehingga tidak berpotensi menjadi pencemar lingkungan.

 

 

Kodrat manusia selalu ingin mengontrol hama yang berdampak pada dirinya, tercatat pada 1.000 SM masyarakat Yunani telah mngendalikan hama dengan sulfur sebagai fumigan. Bangsa Cina yang pertamakali memperkenalkan senyawa arsenat sebagai pestisida kimia pada tahun 900 M. Penggunaan bahan arsenat ini bertahan cukup lama meskipun hama-hama juga sudah menunjukkan segala kekebalan. Pada tahun 1980 mulai digunakan bahan alam sebagai pestisida yaitu dengan  digunakannya daun tembakau oleh petani di Eropa. Metodenya masih sederhana karena pada masa itu belum dikenal alat-alat industri dan pengetahuan yang cukup. Tembakau direndam didalam air selama satu hari satu malam, baru kemudian dipakai untuk menyemprot atau disiramkan. Racun nikotin yang terdapat dalam daun tembakau ternyata cukup efektif racun pembasmi hama.

 

Di Asia dan sekitarnya para petani lebih mengenal bubuk pohon deris, yang mengandung bahan aktif Rotenon sebagai zat pembunuh. Disamping itu juga dipakai bahan aktif Pirenthin I dan II, dan Anerin I dan II, yang diperoleh dari bunga Pyrentrum aneraria. Tahun 1867 tercatat paris green, sebuah bahan insektisida berbasis arsenik untuk mengendalikan hama kumbang colorado pada tanaman kentang di Amerika dan bubuk bourdeoux adalah campuran copper sulphate dan hydrate lime telah digunakan sebagai pengendali fungi patogen pada tanaman anggur dan berbagai buah-buahan.

 

Pada tahun 1800-an para petani masih banyak menggunakan cara pengendalian kultural untuk mengendalikan hama seperti rotasi tanaman, membiarkan lahan bera pada saat tertentu, tanaman perangkap, membuang sisa tanaman yang dapat menjadi hal menguntungkan bagi hama. Semua itu bertujuan untuk memanipulasi lingkungan tanaman agar pengendalian hama secara alami dapat terjadi. Tetapi setelah perang dunia I dan II telah merubah pola pengendalian dengan semakin banyaknya pabrik-pabrik kimia yang mempunyai kemampuan memproduksi bahan kimia sintetik dalam skala besar.

 

Penemuan DDT (Dicholro Diphenil Trichloroetana) pada tahun 1874 oleh seorang warga negara Jerman, Zeidler, merupakan babak baru dalam perkembangan industri pestisida. Tahun 1939, DDT dan 2,4 D telah menjadi perhatian, sebagai senjata untuk menyerang serangga hama dan gulma. Sejak itu penggunaan pestisida semakin intensif, laporan Bateman pada tahun 2000 menyatakan bahwa antara tahun 1980 dan 1999 telah terjadi kenaikan penggunaan pestisida 2.5 kali lipat. Biaya yang dikeluarkan untuk pestisida mencapai 2.5 juta ton atau sebanding dengan  20 milyar dolar Amerika. Secara umum pestisida akhirnya menjadi satu-satunya solusi yang terpenting dan cepat menyelesaikan problem organisme pengganggu dan petani menjadi sangat tergantung padanya.

 

Pestisida kimia sintetik digunakan secara luas karena dapat bekerja dengan baik, akan tetapi tidak selalu menjadi jawaban yang tepat, dalam kondisi tertentu penggunaannya tidak dapat mengendalikan populasi hama untuk beberapa alasan, diantaranya; Pertama, terjadinya ledakan hama kedua, meskipun pestisida kimia sintetik masih menjadi teknik pengendalian hama yang secara luas di gunakan, akan tetapi pada saat ini banyak pemikiran untuk dikembangkan sebuah alternatif.

 

Ketika pestisida diaplikasikan untuk mengendalikan arthrpoda, secara natural menyebabkan musuh alami yang secara normal mengkonsumsi serangga hama ada dalam kondisi yang tidak melimpah atau tidak ada lagi musuh alami. Oleh karena itu, ketika hama kembali menginvasi daerah itu, tidak ada lagi musuh alami dan populasi serangga hama akan cepat meningkat. Keadaan populasi yang cepat meningkat dibandingkan populasi awalnya sering dikenal dengan resurgensi.

 

Kedua, ledakan hama sekunder, ketika musuh alami mengalami kematian akibat aplikasi pestisida. Ada serangga hama lain yang awalnya bukan hama sasaran/utama ppopulasinya akan meningkat, karena musuh alami yang awalnya mampu menjaga kepadatan populasinya selalu rendah menjadi tidak ada, atau kepadatan populasinya tidak lagi mampu mengendalikannya, maka kondisi ini sering dikenal sebagai ledakan hama sekunder .

 

Ketiga, resistensi hama, efek ketiga dari penggunaan pestisida yang sangat intensif, maka akan menyebabkan terjadinya resistensi pestisida (Gambar 1.3). Resistensi dapat berkembang ketika pestisida secara ekstrim efektif mematikansebagian besar populasi serangga hama setelah aplikasi. Akan tetapi kadang-kadang beberapa populasi masih hidup karena secara fisiologi bebrbeda dan toleran terhadap aplikasi pestisida tersebut. Strain baru itu menjadi resistan terhadap pestisida dan populasinya akan terus meningkat meskipun pestisida diaplikasi ulang.

 

Ketiga fenomena negatif yang diakibatkan oleh penggunaan pestisida yang berlebihan terhadap serangga hama sering dikenal sebagai pesticide treadmill yang dapat mengakibatkan peningkatan ketergantungan untuk selalu menggunakan teknik pengendalian ini, akan tetapi meskipun beberapa pestisida telah dilarang di Amerika Serikat dan Eropa.

 

Pestisida Hasil Fermentasi

 

Fermentasi yang melibatkan mikroorganisme ternyata tidak hanya menghasilkan antibiotik yang banyak digunakan dalam dunia kedokteran dan sebagian kecil digunakan sebagai fungisida, tetapi juga menghasilkan senyawa kimia atau kumpulan senyawa kimia lain yang strukturnya berbeda disebut dengan lakton makrosiklik (macrocyclic lactone) atau makrolida (macrolides). Karena efikasinya yang sangat baik untuk mengendalikan nematode, parasit, tungau (mites) dan berbagai jenis serangga hama, makrolida diproduksi secara komersial sebagai insektisida, akarisida, dan nematisida, baik di lapangan perlindungan tanaman maupun kesehatan hewan.

 

Proses pembentukan dimulai dari mikroorganisme yang difermentasikan untuk menghasilkan senyawa bioaktif. Senyawa tersebut kemudian dimurnikan melalui proses pemurnian dan menghasilkan bahan aktif pestisida. Bahan aktif tersebut kemudian diformulasikan menjadi produk jadi yang diperdagangkan. Senyawa-senyawa makrolida ini, seperti banyak senyawa alami lainnya memiliki struktur kimia yang sangat kompleks dan sulit diproduksi secara komersial oleh industri dengan cara sintesis.

 

Kelompok avermektin yang merupakan hasil fermentasi bakteri tanah Streptomyces avermitilis, anggota kelompok ini adalah abemectin dan emamectin. Kelompok kedua berasal dari fermentasi Streptomyces hygroscopius subsp aureolacrimosus disebut sebagai kelompok milbimesin yang beranggotakan milbimectin dan kelompok ketiga disebut sebagai kelompok spinosin yang berasal dari hasil fermentasi dari Saccharospolyspora spinosa dan salah satu produknya adalah spinosad.

Spinosad merupakan campuran spinosin A dan spinosin D metabolit sekunder dari hasil fermentasi aerobik Saccharospolyspora spinosa yaitu dalam media bernutrisi. Seperti halnya proses fermentasi lainnya, spinosad diekstrak dari suspensi cair untuk memudahkan penggunaan dan distribusi. Spinosad berwarna abu-abu muda hingga putih, dengan derajat keasaman atau pH 7.74 membuat spinosad stabil terhadap logam dan ion logam selama 28 hari dan dapat bertahan selama tiga tahun sebagai material formula.

Secara struktur spinosad mengandung cincin tetracyclic dengan dua molekul gula yang berbeda. Model yang unik berpasangan dalam aktifitasnya di satu sisi mempunyai efek toksisitas yang tinggi terhadap organisme target dan di sisi lain efek toksistasnya rendah untuk organisme non target termasuk didalamnya berbagai macam serangga bermanfaat. Dengan perpaduan tersebut membuat spinosad layak disebut sebagai alat baru yang sangat baik untuk pengendalian serangga hama.

Menurut Saunders and Bret, spinosad dikomersialisasikan pada awal tahun 1997, sebagai racun kontak dan racun perut, yang bekerja sebagai racun saraf dengan aktifitas reseptor noctinic acetyl cholin. Senyawa ini efektif mengendalikan berbagai serangan hama dari ordo Lepidoptera dan Diptera, tidak bersifat toksik bagi serangga penusuk-penghisap, predator dan tidak menimbulkan efek terhadap reproduksi.

Spinosad tidak berpotensi menjadi pencemar lingkungan karena mudah terdegradasi. Degradasi spinosad oleh lingkungan alami melalui berbagai jalur, dengan bantuan cahaya (photodegradation) dan mikroorganisme sehingga kembali menjadi komponen karbon, hydrogen, oksigen dan nitrogen. Setengah umur spinosad didalam tanah dapat didigeradasi di dalam tanah dengan bantuan cahaya (photolysis) selama 9 sampai 10 hari. Kurang dari satu hari untuk fotolisis air dan fotolisis pada permukaan daun mneghaislkan setengah umur spinosad selam 1,6 sampai 16 hari. Degradasi dalam tanah secara aerobik tanpa cahaya selama 9 sampai 17 hari. Hidrolisis tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap degradasi spinosad, karena senyawa ini relatif stabil pada kisaran pH  5-6 dan setengah umur dapat mencapai 200 haru pada pH 9.

 

 

 

 

 

 

Posted by: dgusyana | July 22, 2008

Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik

img_0108Koran Jakarta, Senin, 30 Juni 2008

Rasanya yang manis-manis asam dan segar membuat buah stroberi, raspberry, blackberry, red blackberry, dan black courant banyak disukai. Buah-buahan dari famili yang berbeda tapi termasuk kategori beri ini cocok hidup di daerah dingin. Ketika malam hari, suhu ideal bagi tanaman beri berkisar 13-14 derajat Celcius, sedangkan ketika siang hari sekitar 23-24 derajat Celcius.


Suhu yang cukup dingin di malam hari dibutuhkan untuk memicu proses inisiasi bunga, sedangkan di siang hari tanaman beri, khususnya stroberi, membutuhkan cukup cahaya matahari untuk proses fotosintensis dan pematangan buah. Untuk mendapatkan buah stroberi yang berkualitas, mulai dari proses penanaman hingga perawatan buah harus diperhatikan dengan benar.

Biasanya, penanaman stroberi dilakukan secara tradisional dengan mengandalkan media tanah atau disebut juga dengan teknik mulsa. Teknik ini lazim dipakai karena mudah dan murah. Petani hanya tinggal membuat gundukan tanah yang ditutup dengan plastik yang telah dilubangi. Sebelum ditutup plastik, tanah diberi pupuk dengan kadar tertentu. Setelah itu, plastik dihamparkan hingga menutupi tanah sebagai media tanam.

Meski tergolong mudah, cara ini memunyai kekurangan. Pasalnya, tanah yang ditanami secara terus-menerus akan mengalami kejenuhan dan mengandung mikroorganisme yang bisa menjadi hama bagi tanaman. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, dikembangkan sistem hidroponik. ?Di Indonesia penanaman stroberi dengan sistem hidroponik mulai marak sejak tahun 2000,? papar Dadang Gusyana, Production Supervisor PT Strawberindo Lestari, produsen stroberi.
Untuk tanaman lainnya, teknik hidroponik telah dikembangkan jauh sebelumnya. Merujuk asalnya, istilah hidroponik atau hydroponics berawal dari bahasa Latin, hydro

berarti air dan ponos berarti kerja. Secara umum, sistem hidroponik berarti sistem budi daya pertanian tanpa menggunakan media tanah, tetapi menggunakan air yang berisi larutan nutrien.

Jika dibandingkan dengan sistem penanaman secara tradisional, sistem ini memiliki beberapa keunggulan, yaitu kepadatan tanaman per satuan luas dapat dilipatgandakan sehingga menghemat penggunaan lahan, terjaminnya mutu produk, baik bentuk, ukuran, rasa, warna, maupun kebersihannya karena kebutuhan nutrisi tanaman dipasok secara terkendali di dalam rumah kaca. Selain itu, sistem hidroponik tidak mengenal musim atau waktu tanam sehingga panen dapat diatur sesuai dengan kebutuhan pasar.

Dalam pengembangan hidroponik, ada dua jenis media yang dipakai, yakni media nontanah dan media air. Yang dimaksud media nontanah adalah pasir, arang sekam padi, zeolit, rockwoll, gambut, dan sabut kelapa. Sedangkan media air biasanya mengandung nutrien atau pupuk yang bersirkulasi sebagai media.

Di media air tersebut, akar tanaman terendam sebagian dengan kedalaman sekitar tiga milimeter. Cara ini sering disebut dengan Nutrient Film Technical (NFT). ?Media yang kedua ini cocok untuk tanaman beri karena jika terjadi kesalahan dalam memberi nutrisi tanaman tidak akan langsung kolaps,? ujar Dadang yang juga mengembangkan tanaman beri hidroponik di Daerah Cipanas, Jawa Barat.

Sebenarnya, secara teknis penanaman sistem hidroponik pada stroberi tidak berbeda jauh dengan sistem hidroponik pada tanaman lain. Yang membuatnya istimewa, sistem hidroponik stroberi biasanya menggunakan media berupa kayu lapuk. Media tersebut berfungsi sebagai buffer atau penyeimbang jika terjadi perubahan suhu air dan terdapat kelebihan atau kekurangan nutrisi pada saat pemupukan.

Media tanam lain yang juga sering digunakan antara lain arang sekam dan serabut kelapa. Adapun proses pembuatannya diawali dengan cara menyangrai kedua bahan itu di wajan atau di atas lapisan seng. Proses ini harus dilakukan hati-hati, jangan sampai bahan terbakar menjadi abu. Arang serabut kelapa atau arang sekam yang telah dingin lantas dimasukkan ke polybag kecil sebagai media penyemaian benih dan polybag besar untuk proses pembesaran.

Proses selanjutnya bibit beri yang telah siap tanam dimasukkan ke polybag dan diberi nutrien sesuai dengan takaran yang tepat. Pemberian nutrien ini, tutur Dadang, harus disesuaikan dengan masa pembibitan, pertumbuhan, dan pembuahan. Nutrien yang telah dilarutkan dalam air kemudian didistribusikan ke media melalui jaringan irigasi mikro. Jaringan tersebut dapat meneteskan nutrien ke media yang langsung diserap oleh tanaman.

Adapun besarnya electrical conductivity (EC) atau konduksi listrik yang digunakan untuk menjalankan jaringan irigasi mikro berkisar 1,1 hingga 1,5 mS/cm. Dengan cara tersebut, reaksi tanaman terhadap perubahan formula pupuk dapat segera terlihat. Oleh karena itu, pasokan listrik harus selalu tersedia selama 24 jam.

Dilihat dari sisi perawatan, sistem hidroponik memberikan kemudahan. Pasalnya, petani tidak perlu repot mengganti media setiap kali akan menanam stroberi. Seusai buah dipanen, talang atau pot sebagai wadah tanaman dapat dibersihkan dengan dicuci atau disikat. Setelah bersih, wadah tersebut dapat diisi dengan bibit yang baru. Demikian seterusnya.

Sistem hidroponik juga memberikan keuntungan lainnya, yakni menghasilkan buah yang kualitasnya lebih baik. Pasalnya, dengan cara hidroponik, baik ukuran maupun rasa buah bisa direkayasa sesuai harapan, bergantung pada pemberian nutrisi. ?Jika ukuran buah kurang besar, bisa ditambah kandungan nitrogen dan jika kurang manis dapat ditambah kalsium,? timpal Dadang.

Green House

Kecuali blueberry yang jenisnya berkambium dan pohonnya besar, syarat untuk membuat beri hidroponik harus ada green house yang tertata dengan baik. Green house berfungsi sebagai wahana pelindung tanaman. Di dalam green house tanaman diatur suhu, kelembaban, tekanan udara, serta derajat keasamannya (pH) yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman beri. Derajat keasaman yang cocok untuk tanaman beri berkisar lima hingga enam, kecuali blueberry cocok dengan pH empat hingga lima.

Perlakuan itu semua bertujuan agar pertumbuhan tanaman terkontrol, jauh dari berbagai macam penyakit, serta bebas dari pengaruh cuaca luar yang tidak bersahabat. Selain itu, agar kontinuitas produksi tanaman berjalan dengan baik. Dalam penanaman stroberi, pengaturan suhu memegang peranan penting. Oleh karena itu, biasanya green house dilengkapi dengan kitiran atau kipas yang berfungsi untuk sirkulasi udara, terutama jika siang hari suhu di dalam green house terlalu panas.

Jika semua persyaratan itu telah terpenuhi, masa pembuahan yang diawali dengan perkembangan bunga akan lebih cepat. Biasanya pada masa ini disebarkan ribuan ekor lebah jenis Melivera ke dalam green house. Penyebaran lebah bertujuan agar proses pembuahan benang sari ke putik berlangsung sempurna. Tanpa bantuan lebah, pengalihan benang sari ke putik tidak akan terjadi karena terbatasnya angin di dalam green house. Dari biaya produksi, pembuatan green house terbilang lebih efisien. Pasalnya, penggunaan air, pupuk, dan pestisida bisa dikurangi.

Menurut Dadang, tanaman beri yang dibudidayakan di dalam green house membutuhkan cahaya dengan panjang gelombang sekitar 400 ? 700 nanometer (Photosynthetically Active Radiation). Untuk itu, dibutuhkan penutup yang sesuai dengan kisaran panjang gelombang tersebut. Agar bisa mendukung syarat ini, diperlukan bahan fiberglass dan polyethylene. Jika menggunakan bahan acrylic dan polycarbonate justru cenderung akan meneruskan cahaya, bukan meyebarkannya.

Posted by: dgusyana | July 22, 2008

Obat Herbal Pertama Cina yang dijual di Amerika

Sebelum Linnaeus memberikan nama Coix lacryma-jobi  di tahun 1753, dalam buku populer Book of Job, terdapat kata “before God my eyes drop tears” mengilhami masyarakat Inggris untuk menyebut coix dengan sebutan Job’s tears. Tears berasal dari bahasa latin lacryma yang berarti air mata, merupakan gambaran dari ujung kulit biji coix yang menyerupai tetesan air mata. Sebutan lain untuk tanaman yang merupakan cikal bakal material pengobatan herbal Cina adalah St Mary’s tears.

 

 

Orang sunda mengenal coix dengan sebutan hanjeli, sedangkan kosakata Indonesia dikenal sebagai jali. Di sejumlah wilayah negeri ini, tumbuhan tersebut dikenal sebagai singkoru batu, kemangge, bukehang, dan kaselore.

 

Coix lacryma-jobi L. merupakan sejenis tumbuhan biji-bijian tropika dari suku Poaceae. Asalnya adalah Asia Timur dan Malaya namun sekarang telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Tanaman ini tergolong dalam kelompok rumput-rumputan, berdiri tegak, bercabang kuat, tingginya dapat mencapai tiga meter. Buluh terisi dengan empulur, bercabang pada bagian atasnya.

 

 

Daun besar dan berpelepah, helaian daun memita sampai membundar telur-melanset, tepi daun kasar, halus atau kasap permukaan atasnya. Perbungaan di ketiak daun paling atas, soliter atau terdiri dari 2-7 berkas, putih atau kebiruan, mengandung 2 tandan; tandan betina mengandung buliran yang duduk, buliran dengan 1 floret, tandan jantan dengan kira-kira 10 buliran yang menyirap dan muncul berpasangan atau tiga-tiga.

 

 

Mempunyai gantilan lainnya duduk; buliran melanset sampai menjorong, mengandung 1-2 floret jantan. Buah bervariasi dalam ukuran, bentuk, warna dan kekerasannya, biasanya berwarna abu-abu, kuning-merah tua atau keunguan, lunak atau keras, berisi jali. Jali berwarna merah tua untuk yang berkulit keras, atau merah muda untuk yang berkulit lunak.

 

 

Ada dua varietas coix yang ditanam di berbagai belahan dunia yaitu Coix lacryma-jobi L. var lacryma-jobi yang mempunyai kulit pseudocarp yang keras yang membutanya sangat kuat, berwarna putih mutiara dan berbentuk oval. Biji coix dari varietas lacryma-jobi var lacryma-jobi ini secara alami mempunyai lubang pada setiap ujungnya sehingga mudah untuk memasukkan benang.

Salah satu yang popular adalah untuk membuat tasbih sebagai manik-manik yang spesial karena tahan terhadap kerusakan oleh kelembaban dan mempunyai simbol air mata. Penggunaan lainnya untuk membuat kalung, dan tirai yang sangat memikat dan menarik serta keseluruhan perbungaan kadang-kadang digunakan sebagai karangan bunga kering.

 

 

Varietas coix lainnya yaitu Coix lacryma-jobi L. var ma-yuen yang ditanam sebagai sumber makanan pokok dan dibeberapa negara di Asia digunakan sebagai bahan pengobatan alternatif, memiliki biji yang dapat dimakan dan dijadikan sumber karbohidrat dan obat. Tanaman ini sama dengan keluarga rumput-rumputan lainnya dimana bijinya merupakan sumber karbohidrat utama seperti gandum, jagung dan padi. Dilihat dari segi kekerabatannya meskipun tidak satu genus,  Coix lacryma-jobi L. var ma-yuen, paling dekat dengan gandum (Hordeum vulgare), oleh karenanya sering disebut sebagai coix barley. Coix barley mempunyai rasa yang kuat dibanding jenis sereal lainnya, sama halnya dengan gandum, coix dikonsumsi dalam jumlah yang sedikit, sekitar 30 gram per sajian, biasanya dicampur dengan beras atau dengan gula merah.

 

 

Dalam sejarah pengobatan Cina, coix digunakan sebagai salah satu bahan resep obat tradisonal yang dikenal dengan yiyiren atau yiren ( yi = untuk jenis tanaman yang spesifik dan ren = biji).  Di Cina, nama coix pertamakali dikenalkan oleh Shennong Bencoa Jing sekitar tahun 100 masehi, digunakan untuk meringankan kekakuan otot.

 

 

Pada tahun 200 masehi, Jingui Yaolue membuat campuran coix dan aconite untuk mengobati berbagai gangguan kesehatan pada dada dengan sebutan Coix Combination. Coix Combination ini diperkenalkan oleh Huang Fuzhong dalam bukunya Mingyi Zhizhang pada tahun 1502 dan dibawa ke Jepang saat pengiriman besar-besaran sistem pengobatan herbal Cina pada abad 16 samapai 17.

 

Coix Combination inilah yang menjadi salah satu formula herbal Cina pertama yang di pasarkan di Amerika pada tahun 1980 an. Saat ini dikenal dengan nama Mobility 1 yang merupakan bagian dari formula  pengobatan tradisonal Cina. Mobility 1 tidak dilanjutkan pemsarannya ketika Ma-Huang mendapatkan masalaha pada kandungannya, tetapi Mobility 2, yang digunakan untuk pengobatan lanjutan masih tetap ada dan bergunan untuk mengobati radang sendi. 

 

 

Masyarakat Jepang menggunakan Coix Combination (Yiyiren Tang) untuk mengobati kaku, kejang atau ketidak mampuan menekuk atau melipat pada tungkai tangan atau anggota badan lainnya. Kajian ilmiah terbaru mengenai teknik pengobatan sederhana, perlakuan untuk gangguan atau sakit pada otot atau myofibrositis dapat diobati dengan ramuan 60 gram coix ditambah 30 gram atractylodes putih, direbus dan diminum dengan dosis satu kali sehari.

 

 

Saat ini hanjeli, coix, adlay atau Job’s tears dibudidayakan sebagai bahan makanan pokok di seluruh daerah tropik dan sedang, terutama di India, Cina, Filipina, Thailand, Malaysia dan daerah Mediterania.

Posted by: dgusyana | July 22, 2008

“Hanjeli” Bisa Gantikan Beras

Hanjeli (Coix lacryma-jobi L. var ma-yuen) merupakan tanaman asli Asia bagian selatan dan timur. Dibudidayakan sejak 3.000-4.000 tahun yang lalu di India dan Cina sebagai sumber makanan yang sangat penting sebelum masyarakat di kedua negara tersebut mengenal jagung dan padi. Hanjeli sebagai bahan makanan sering disebut juga adlay atau coix barley.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted by: dgusyana | July 22, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories