Posted by: dgusyana | January 6, 2009

Menyingkap Rahasia Kentut

kentut

Seorang bapak terbaring lemas di salah satu kamar perawatan rumah sakit setelah menjalani operasi dengan bius total. Bapak tersebut berkeluh kesah dan berkata haus dan lapar, tetapi keluarganya tidak berani memberikan air setetespun dan hanya bisa berkata:  Pak jangan dulu minum kan belum kentut”.  Kehadiran sang kentut amat dinanti nanti karena setelah kentut si bapak baru biasa minum dan makan. Mengapa?

Kentut adalah perpindahan gas dari dalam tubuh, terutama dari usus keluar melalui anus atau dubur. Gas ini terutama berisi nitrogen, oksigen, metan (diproduksi bakteri atau kuman dan mudah terbakar), karbondioksida, hidrogen dan lain-lain. Kentut menandakan peristaltic (pergerakan) usus yang berfungsi dengan baik, sehingga orang pasca operasi dengan bius total baru dapat diberi minum dan makan setelah kentut.

Kentut dalam istilah ilmiahnya disebut flatulence, flatulency atau flatus, bukanlah peristiwa biasa. Anda dapat membuktikannya dengan mencari kata seputar flatulence, flatulency atau flatus di mesin pencari di internet, tidak kurang dari 347.000 rujukan tentang kentut hingga 2008 ini. Kajian tersebut diterbitkan oleh beragam jurnal ilmiah dari berbagai disiplin, dari ilmu gizi, kedokteran, hingga kesehatan dan pengobatan.

Pada kondisi tubuh yang normal, kentut merupakan tanda normalnya aktifitas sistem pencernaan. Sementara itu, kentut yang berlebihan atau tidak kentut sama sekali merupakan tanda adanya iritasi pada perut atau saluran cerna.  Kentut tidak beracun, gas ini secara alami merupakan komponen  dari usus yang normal. Meskipun demikian ketidaknyamanan dapat terbentuk saat tekanan gas semakin tinggi.

Dalam buku The Flatuosities, yang ditulis Hippocrates disebutkan bahwa beraneka ragam penyakit dapat timbul akibat tidak kentut karena berlebihannya gas yang terkumpul dalam perut. Secara teoritis, seseorang yang dapat menderita gaguan susah buang air besar bila menahan kentut. Tidak semua gas kentut  keluar dari dalam tubuh melalui anus. Ketika tekanan parsial berbagai kompenen gas usus lebih tinggi dari tekanan parsial dalam darah, komponen-komponen tersebut msuk kedalam sistem peredaran darah melalui permukaan usus melalui proses difusi.

Pada saat darah mencapai paru-paru, dengan proses difusi gas-gas tersebut dapat keluar dari darah dan keluar pada saat mengeluarkan nafas.  Jika seseorang menahan kentut pada saat siang hari, gas kentut tersebut akan keluar selama kita tidur ketika tubuh dalam kondisi relaksasi. Adakalanya gas kentut terjebak pada saat pembentukan feces  dan keluar bersamaan dengan proses buang air besar.

Gangguan

Kebiasaan menelan udara, yang tanpa disadari, dilakukan oleh hampir setiap orang, pada saat-saat tertentu, seperti dalam keadaan tegang atau stress, udara yang tertelan dapat semakin banyak. Udara tersebut masuk ke lambung dan dapat dikeluarkan lagi atau terus masuk ke dalam usus. Kebiasaan menelan udara juga berhubungan dengan kelainan-kelainan fungsi saluran cerna.

Sejumlah udara juga ikut tertelan bersama-sama dengan makanan, minuman, atau ludah yang ditelan. Jumlah yang tertelan meningkat pada orang yang cepat makannya, pada kaum perokok, dan mereka yang emosinya tak stabil. Biasanya setelah makan, udara yang tertelan ini keluar dengan sendirinya dengan bertahak, akan tetapi pada orang-orang tertentu udara tersebut tidak dapat keluar dengan sendirinya. Udara yang terkumpul di lambung dan menyebabkan sindroma magenblase.

Udara yang diproduksi pada fermentasi oleh bakteri-bakteri dalam kolon, komposisi dan  volumenya bergantung pada sisa makanan dan jenis bakteri, terutama yang bersifat anerobik. Jenis sisa makanan, dengan sendirinya dipengaruhi oleh komposisi makanan  sehari-hari, golongan legume atau kacang-kacangan merupakan salah satu makanan yang menyebabkan pembentukan gas dalam perut.

 

Pada sistem pencernaan manusia, kesulitan pembuangan gas sebagai kentut antara lain memang disebabkan oleh karena gas berada dalam gelembung-gelembung kecil yang menyerupai busa. Pembentukan gelembung ini ternyata dibantu oleh lendir dalam saluran pencernaan. Peranan lendir ini telah dibuktikan dalam berbagai percobaan diantaranya pertama obyek percobaan yang diminta meminum lendir ternyata mengalami gejala-gejala yang serupa dengan gangguan karena pengumpulan gas dalam perut, kedua telah dibuktikan ada korelasi antara kekentalan mukus dalam perut dan tingkat beratnya keluhan penderita, ketiga stress terbukti ikut meningkatkan pembentukan mukus atau sekresi mukus dalam saluran pencernaan.

 

Pengumpulan gas dapat menimbulkan keluhan-keluhan perut kembung, mules-mules, dan berbagai keluhan lain. Demikian kompleksnya gejala-gejala ini sehingga sering disalah-tafsirkan sebagai penyakit organik seperti batu empedu. Gas yang terkumpul di dalam lambung atau splenie flexure dapat mendorong hemi-diaphragma keatas dan menekan jantung. Ini dapat menimbulkan gejala-gejala nyeri pada perut kiri atas yang kadang-kadang menjalar ke leher.

 

Bila sejarah pada kasus dapat diketahui dengan jelas, misalkan perut kembung bila memakan kacang, kol atau lobak, terapi akan sangat sederhana, yaitu mengeliminasi makanan tersebut dari dietnya. Sayang bahwa pada sebagian besar penderita makanan yang dapat menimbulkan gejala-gejala tersebut sangat banyak macamnya, sehingga terapi dengan mengendalikan diet menjadi tidak praktis.

 

Keluhan-keluhan setelah orang-orang percobaannya memakan makanan tertentu yang menyebabkan pembentukan gas. Ternyata 82% orang percobaannya melaporkan berkurang keluhan-keluhan, dibandingkan dengan 35% yang memakan plasebo. Frekuensi kentut dapat menigkat seiring dengan ketinggian terbang dan penerbangan luar angkasa. Rendahnya tekanan atmosfir, saat proses melahirkan, dan konsisi stres juga menjadi faktor lain terbentuknya gas kentut. Pada saat pendakian gunung, High Altitude Flatus Expulsion pertama kali tercatat dua ratus tahun yang lalu.

 

Terapi

Pada tahun-tahun sekitar 40 sebelum masehi, masyarakat Romawi kuno mengalami masa-masa di mana kentut  di tempat-tempat umum dinyatakan terlarang dan dinyayatakan secara tertulis dalam undang-undang. Tetapi Kaisar Claudius kemudian merubah undang-undang tersebut, karena menurut para ahli sejarah mungkin disebabkan karena kaisar tersebut sering kentut sembarangan.

Mengeluarkan kentut dianggap sesuatu yang tidak sopan pada kebanyakan kebudayaan. Di dalam tatanan adat istiadat  masyarakat Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam suku ini masalah kentut tersebut juga menduduki tempat yang penting. Di daerah tertentu yang menyatakan bahwa bila seorang calon menantu membuang angin sehingga terdengar oleh calon mertua, maka sang mertua akan segera memutuskan hubungan dengan menantunya.

Produk Under-Tec Corp sempat menjadi buah bibir di media massa Amerika Serikat di awal tahun 2000-an yaitu Under-Ease. Penyaring kentut ini diproduksi pula dalam bentuk pembalut yang dapat direkatkan pada celana dalam, sehingga lebih praktis. Pakaian dalam yang sudah mendapatkan hak paten ini adalah hasil penelitian Buck and Arlene Weimer. Lainnya FLAT-D, produk berbentuk kain persegi panjang, yang mudah dilipat dan dibawa. Ketika seseorang buang angin dalam keadaan duduk di atas kursi kerja yang tertutup kain FLAT-D, kain ajaib ini menyerap aroma tidak sedap kentut tersebut.

Sebetulnya gas yang terbentuk dalam usus dapat direduksi dengan proses fermentasi. Oligokasarida difermentasikan dengan bantuan Lactobacillus casei dan Lactobacillus plantarum sehingga molekul tersebut dipecahkan menjadi molekul-molekul yang lebih kecil. Proses pemecahan ologosakarida dalam usus dapat dipadankan dengan pembautan tahu, bisa kita lihat bahwa dengan fermentasi, pembuatan tahu hanya sedikit menghasilkan gas.

Berbagai jenis probiotik seperti yogurt dan kefir terbukti mengurangi gas usus dan frekeunsi kentut karena probiotik tersebut berperan dalam menjaga keseimbangan flora dalam usus. Yogurt mengandung Lactobacillus acidophilus bermanfaat untuk megurangi gas dalam pencernaan. L. acidophilus dapat membuat usus lebih asam dan memelihara keseimbangan alam dalam proses fermentasi.

Suplemen enzim pencernaan berperan dalam mengurangi jumlah gas kentut dengan cara mengefektifkan proses pencernaan makanan sehingga sebagian besar senyawa dapat dipecah dengan sempurna. Enzim-enzim pencernaan seperti alpha-galactosidase , lactase, amylase, lipase, protease, sellulase, gluko amylase, invertase, pektinase, dan bromelain dapat dijumpai dengan bentuk masing-masing atau campuran dan tersedia bebas di pasaran.

Antibiotik rifaximin, yang biasa digunakan untuk pengobatan diare yang disebabkan E. coli, dapat  mengurangi produksi gas usus dan frekuensi kentut. Selain itu  terapi kentut dapat dilakukan dengan sedikit menambahkan zat asam kedalam proses pencernaan seperti meminum lemon jus dapat menstimulasi produksi gastric hydrochloric acid.  Suasana asam dapat meningktakan kinerja enzim pencernaan dan produksi asam sehingga proses pencernaan berjalan dengan normal dan diharapkan mengurangi gas kentut. Mengkonsumsi suplemen bromelain atau papain yang terbuat dari pisang dan pepaya dapat juga membantu mengurangi kentut.

Irna Safira Inayah, S.Si

Staff Pengajar Sekolah Tinggi Farmasi Indoensia (STFI), Bandung

 

Dadang Gusyana, S.Si

Information Officer, Indonesian Biotechnology Information Centre (IndoBIC), Pengembang situs http://www.moriskagroup.com & http://moriskaoptikal.blogspot.com/

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: